29 Mei 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

KEROYOKAN AWASI GURU TERBUKTI EFEKTIF TINGKATKAN KINERJA GURU

3 min read
MAROS,Sulawesi Selatan,citranewsindonesia,—
Berdasarkan Survey yang dilakukan oleh PISA (Program for International Student
Achievement) dan OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development)
tahun 2012, 76% siswa Indonesia  pencerapan terhadap pelajaran matematikanya
rendah dan sangat rendah.

Uji kompetensi guru yang dilaksanakan
oleh pemerintah tahun 2015 mempertegas bahwa hal itu disebabkan oleh rendahnya
kemampuan guru dalam mengajar. Nilai UKG tahun 2015 menunjukkan rata-rata nilai
kompetensi guru masih dibawah standar yaitu hanya 53 dari nilai maksimal 100.
“Rendahnya pencerapan siswa sebenarnya hampir terjadi di semua pelajaran dan
tentu saja kompentensi guru adalah salah satu penyebabnya,” Ungkap Jamaruddin
Provincial Coordinator USAID PRIORITAS Sulsel di kantornya (31/10/2016) 
Sayangnya, kepala sekolah dan
pengawas, yang seharusnya mampu menilai kemampuan guru mengajar dan membina
mereka menjadi lebih baik, tidak memiliki kapasitas memadai untuk melakukan hal
tersebut. Rata-rata hasil nilai uji kompetensi pengawas secara nasional tahun
2015 cuma 41, 49, dan kepala sekolah cuma 45,92 jauh dibawah nilai maksimal
100. Ujung-ujungnya berakibat pada rendahnya kapasitas siswa. “Pada akhirnya
yang jadi korban selalu siswa dan masa depan bangsa ini,” Tegas Jamaruddin.
  
Mencermati rendahnya kapasitas kepala
sekolah, Ibu Nurcaya, pengawas sekolah di Maros memiliki cara unik tersendiri
untuk mengatasi hal tersebut. Dia mengorganisasi kepala sekolah untuk
bersama-sama mengawasi satu guru saja pada jadwal yang sudah ditentukan
bersama. “Banyak guru setelah diawasi malah protes dengan nilai yang diberikan.
Hasil penilaian supervisi kepala sekolah sering tidak konsisten. 
Kebanyakan karena supervisor atau kepala sekolah sendiri tidak mengetahui
secara persis aspek-aspek yang dinilai dalam supervisi, misalnya saja mereka
kurang mengetahui aspek yang dinilai pada pokok melayani perbedaan individu dan
indikator-indikatornya,” Paparnya.
“Sebagai seorang pengawas yang
memantau pelaksanaan kegiatan  supervisi tersebut, Ibu Nurcaya kemudian
menggagas supervisi  kepala sekolah secara berkelompok kecil (2-3 orang).
Selama ini supervisi dilaksanakan sendiri-sendiri. “Dengan supervisi kelompok
ini, saya berharap masing-masing individu saling bisa belajar  dan saling
mengisi dalam memahami instrument-instrumen pengawasan.”

Gagasan ibu Nurcaya diterima dengan
baik oleh para kepala sekolah di salah satu gugus kecamatan di Turikale Maros.
Mereka langsung membuat jadwal dan mengangkat ketua kelompok masing-masing.
Ketua kelompok ini merupakan orang-orang yang sebelumnya pernah dilatih baik
mengenai pengawasan sekolah maupun pembelajaran oleh USAID PRIORITAS, sehingga
dianggap mampu menularkan ilmunya kepada yang lain.   
Para kepala sekolah sebelumnya juga
difasilitasi memahami instrumen yang akan digunakan dengan dipandu oleh
masing-masing ketua kelompok dan ibu Nurcaya sebagai pengawas menjadi nara
sumber. Mereka mendiskusikannnya hingga semua indikator yang akan diamati
terpahami secara baik oleh masing-masing kepala sekolah. 
Sesuai jadwal, mereka kemudian
melakukan  pengawasan satu guru di satu sekolah secara bersama dengan
menggunakan instrumen yang sama pula. Setelah pengamatan selesai, kelompok
tersebut menganalisis secara bersama hasilnya dan membuat kesimpulan serta
rekomendasi dari obyek yang sama pula untuk menyusun program perbaikan kualitas
pembelajaran berikutnya. 
“Analisis dan refleksi ini dilakukan
di sekolah. Selanjutnya hasilnya diteruskan kepada guru yang bersangkutan.
Refleksi juga dilakukan di kelompok besar MKSS dengan melibatkan pengawas, yang
memberikan penguatan lebih lanjut. Dengan refleksi di MKKS, maka semua kepala
sekolah juga mendengar, bisa ikut belajar dan memberi masukan.”
Ternyata dengan cara demikian,
kapasitas mengawasi dan membina guru oleh kepala sekolah naik dengan pesat. Ini
terbukti dengan kemampuan mengoperasionalisasikan penilaian dengan lebih detail
dan terperinci. Mereka juga mencatat fakta-fakta pembelajaran dengan lebih
banyak. “Hasil evaluasi  menunjukkan mereka sangat puas dengan kegiatan
ini dan bahkan berharap sebenarnya kegiatan seperti ini dilakukan  sejak
dulu, supaya nilai mereka lebih meningkat dalam UKKS dan lebih bisa
meningkatkan kapasitas guru,” Pungkas Nurcaya. (Red)
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI CITRANEWS    OK TERIMAKASIH