BOGOR || citranewsindonesia.comb– Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Idaman Desa Rawakalong, Kabupaten Bogor, terus mengembangkan program ketahanan pangan melalui usaha peternakan ayam broiler dan budidaya padi. Pada Minggu (7/6/2026), pengelola BUMDes melaksanakan kegiatan penyortiran atau penangkapan ayam menjelang pemasaran di kandang yang berlokasi di Jalan Beringin RT 03/01, Desa Rawakalong.
Program ketahanan pangan yang dijalankan BUMDes Idaman merupakan bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan peternakan di desa. Kegiatan tersebut dikelola oleh Ketua BUMDes Edi, Sekretaris Puja Saki, dan Bendahara Agus.
Edi menjelaskan, program ketahanan pangan Desa Rawakalong saat ini difokuskan pada dua sektor utama, yakni peternakan ayam dan budidaya padi. Lokasi usaha peternakan berada di kawasan Perumahan Al Falah dekat SMP Negeri 3, sementara lahan pertanian padi dikelola di area persawahan desa.
Menurutnya, total anggaran yang dialokasikan untuk program ketahanan pangan mencapai lebih dari Rp200 juta. Dana tersebut digunakan untuk pengembangan usaha ayam dan pertanian padi. Untuk sektor peternakan ayam dialokasikan anggaran lebih dari Rp100 juta, sedangkan program budidaya padi mendapatkan dukungan dana sekitar Rp75 juta.
“Untuk program padi, kami sudah melaksanakan satu kali panen dengan hasil sekitar dua ton beras dari lahan seluas dua hektare. Beras hasil panen dijual dengan harga Rp60 ribu per lima kilogram,” ujar Edi.
Di sektor peternakan, BUMDes Idaman saat ini memasuki periode pemeliharaan ketiga. Pada periode awal, jumlah ayam yang dipelihara mencapai 7.000 ekor. Namun, jumlah tersebut kemudian dikurangi menjadi 5.000 ekor dan kini tersisa sekitar 3.000 ekor akibat kondisi usaha yang dipengaruhi fluktuasi harga pakan serta rendahnya harga jual ayam di pasaran.
Untuk memenuhi kebutuhan pakan, sebanyak 3.000 ekor ayam broiler berusia sekitar 22 hari menghabiskan enam karung pakan setiap hari. Pakan jenis BR-11 yang digunakan memiliki harga sekitar Rp470 ribu per karung.
Dalam kegiatan penyortiran yang dilakukan hari itu, petugas memilih ayam dengan bobot antara 900 gram hingga satu kilogram. Ayam-ayam tersebut rata-rata berusia sekitar 26 hari dan dinilai sudah memenuhi standar untuk dipasarkan.
Dari total 3.000 ekor ayam yang dipelihara, sebanyak 250 ekor berhasil disortir dan ditangkap untuk kemudian dijual ke pasar. Proses tersebut melibatkan Ketua BUMDes bersama tiga orang staf yang bertugas menangkap dan menyiapkan ayam sebelum didistribusikan kepada pembeli.
Meski program ketahanan pangan desa terus berjalan, Edi berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap stabilitas harga sarana produksi peternakan, terutama pakan dan DOC (Day Old Chick) atau bibit ayam umur sehari.
Ia menilai tingginya harga pakan dan bibit ayam yang tidak sebanding dengan harga jual ayam di pasaran menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha peternakan desa dalam menjalankan program yang telah diamanatkan pemerintah.
“Kami berharap pemerintah pusat melalui kementerian terkait dapat membantu menekan harga pakan dan DOC. Ketika biaya produksi tinggi sementara harga jual rendah, tentu pengelola usaha menjadi kesulitan. Kami ingin program ketahanan pangan yang dipercayakan kepada desa bisa berjalan optimal dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
#maria

