7 Desember 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Jaringan Relawan Demokrat, Harganas XXII Tidak Mewakili Warga Tangsel

3 min read
Tangsel,CitranewsIndonesia— Suhu politik di kota Tangerang Selatan (Tangsel) mulai
memanas, diduga ini terkait dengan majunya kembali Airin – Benyamin 
yang diusung Golkar, PKS, NasDem, PAN, PKB, dan PPP untuk ikut dalam Pilwalkot
Tangsel, 9 Desember mendatang sebagai pasangan calon Walikota dan Wakil
Walikota Tangsel periode 2016 – 2021.
Alih-alih dengan memanfa’atkan momentum Harganas XXII 2015
yang puncak peringatannya dilaksanakan di kota Tangsel, sekelompok masyarakat
yang mengatasnamakan dirinya GERTAK (Gerakan Anti Kepalsuan) menyerang Airin
Rachmi Diany, calon Walikota pertahana dengan sebuah spanduk yang bertuliskan
“Tolak Harganas,  Inikah Keluarga Teladan Indonesia.”
Menurut, presidium JARED (Jaringan Relawan Demokrasi), A
Prianto, spanduk yang disebarluaskan GERTAK dibeberapa sudut kota di Tangsel
itu tidak etis, tendensius dan penuh muatan politik.
“Spanduk GERTAK itu sangant tendensius, tidak etis, dan
penuh muatan politik, karena secara tiba-tiba spanduk-spanduk itu dipasang di
beberapa tempat di kota Tangsel, isinya penolakan terhadap Harganas XXII, 
selain itu GERTAK juga menghimbau Presiden Jokowi untuk mempertimbangkan pelaksanaan
Harganas di kota Tangsel, jelas ini tak bisa didiamkan, aparat hukum harus
cepat bertindak,” ucap A Prianto.
Spanduk yang disebarluaskan GERTAK ini kontan mendapat
sorotan dan kecaman keras dari berbagai kalangan masyarakat, pasalnya isi
spanduk tersebut dinilai memojokkan Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmi
Diany, apalagi ikut diberitakan diberberapa media dengan mengatasnamakan
masyarakat Tangsel,
“ Apa yang dilakukan GERTAK ini menyayat hati masyarakat
Tangsel, spanduk ini dapat menimbulkan gesekan dan permasalahan baru di
masyrakat, pesan yang ada di spanduk tersebut juga mengandung unsur penghinaan,
ini bisa dikategorikan sebagai bentuk penistaan terhadap salah satu pasangan
calon, di sisi lain penolakan terhadap Harganas dapat dikategorikan sebagai
bentuk pelecehan terhadap negara, karena Harganas
merupakan agenda tahunan yang menjadi hajatan negara, ” imbuhnya.
Senada dengan JARED, pengamat politik dari LS-MAHISTA Abu
Malék Anwar Malek menyangkan munculnya spanduk GERTAK tersebut. “Apa pun alasannya,
pemasangan spanduk tersebut sangat tidak etis,  muatan politiknya terlalu
kental terlihat,  bisa dipastikan spanduk itu muncul dari lawan politik
yang tidak suka dengan calon pertahana, yang merasa ketar ketir dengan
popularitas serta prestasi dari Airin dan Benyamin yang diakui jauh di atas
lawan-lawan politiknya.
Sementara itu,dilihat dari sudut pandang ekonomi pelaksanaan
Harganas di Tangsel yang baru saja usai pada Sabtu (1/8) kemarin secara
otomatis telah ikut meningkatkan roda perekonomian kota Tangsel, setidaknya
dalam waktu 3 hari perayaan banyak masyarakat yang diutungkan dengan kegiatan
tersebut, sebut saja Hotel, Wisma, Pusat-pusat perbelanjaan, rumah makan, UKM,
Parkir, dll, “jadi kalau dikatakan Harganas di Tangsel tak ada manfa’atnya itu salah
besar ungkap pengamat politik Abu Malék
Seandainya memang ada penolakan, kenapa penolakan tersebut
dilakukan saat acara puncak perayaan Harganas XXII, bukan sejak awal sebelum
acara tersebut digelar di kota Tangsel.
Acara Harganas ini telah dipersiapkan sejak lama, panitianya
pun tidak hanya Pemkot Tangsel, kepanitiaan Harganas itu terdiri dari panitia
pusat, provinsi, dan kota Tangsel. ”Karenanya kalau ada penolakan itu
keterlaluan, “ kata salah seorang panitia Harganas.
Selain itu, bertepatan dengan perayaan Harganas 22.253 ribu
remaja, terdiri dari siswa/siswi setingkat SLTP dan SLTA/SMK – sederajat
se-Kota Tangerang Selatan,  berikrar untuk menunda usia perkawinan 21
tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria, tidak melakukan seks bebas, tidak
menggunakan napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif), tidak tawuran dan
peduli terhadap lingkungan, di Lapangan Smartfren, BSD, Tangerang Selatan.
(29/7)
“Ikrar mereka ini tercatat dalam museum rekor Indonesia
(MURI), begitu juga dengan Walikota Arin Rachmi Dianya, beliau juga mendapat
penghargaan Satyalancana Wirakarya, yang disematkan langsung oleh Presiden Joko
Widodo,” kata Presidium JARED.
Seandainya memang ada penolakan, kenapa penolakan tersebut
dilaukan saat acara puncak perayaan Harganas XXII, bukan sejak awal sebelum
acara tersebut digelar di kota Tangsel. Acara ini telah dipersiapkan sejak
lama, panitianya pun tidak hanya Pemkot Tangsel, kepanitiaan Harganas itu
terdiri dari panitia pusat, provinsi.
“Itu salah besar, kalau ada yang bilang bahwa pelaksanaan
Harganas XXII Tahun 2015 di kota Tangsel ini tidak ada manfa’atnya.” Kata
Presidium JARED.
Karena itu, baik JARED maupun Abu Malék menghimbau kepada
seluruh warga masyarakat Tangsel untuk tidak terpengaruh dengan spanduk yang
dipasang dari orang atau kelompok yang tidak bertanggungjawab tersebut.
“Warga kota Tangesel sebaiknya tidak tepengaruh dengan
spanduk yang dipasangn oleh orang atau kelompok yang tidak bertanggungjawab
tersebut,” pungkas Presidium JARED A Prianto. (ris/bes/Richal)
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe for notification