BUMDes Cidokom Kembangkan 1.200 Ayam Petelur, Produksi Telur Capai 80 Persen

BOGOR || citranewsindonesia.com – Unit ketahanan pangan berbasis ayam petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cidokom, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, mulai menunjukkan hasil positif. Program yang didukung Dana Desa sekitar Rp300 juta ini berlokasi di Jalan Duren Baru RT 04/RW 04 dan telah berjalan selama delapan bulan sejak diluncurkan pada 2026.

Ketua BUMDes Cidokom, Sawira, bersama Bendahara Zainal dan pekerja lapangan Saipuloh mengelola usaha peternakan tersebut dengan total populasi awal sekitar 1.200 ekor ayam petelur. Hingga saat ini, tercatat sekitar 70 ekor ayam mati, namun produksi telur tetap berjalan dan sudah mencapai sekitar 80 persen dari target.

Hasil produksi telur dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan lingkungan sekitar, seperti warga setempat dan warung-warung. Harga jual telur mengikuti harga pasar kandang yang dipantau melalui aplikasi, sehingga tetap kompetitif.

BACA JUGA :  Pemkot Tangsel Lantik 853 PPPK Tahap II, Benyamin Tegaskan Disiplin dan Profesionalisme ASN

Dalam operasionalnya, perawatan ayam dilakukan secara rutin, mulai dari pemberian vaksin hingga pakan yang terjadwal. Setiap hari, kebutuhan pakan mencapai sekitar 2,5 karung dengan harga per karung Rp375.000. Selain itu, ketersediaan air minum dan kebersihan kandang menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas telur.

“Produksi telur sangat dipengaruhi cuaca, kebersihan kandang, serta pemberian pakan dan air minum yang cukup. Kalau kurang air, kualitas telur bisa menurun, seperti warna pucat, mudah retak, atau cangkang tipis,” ujar Saipuloh.

Ia juga menjelaskan bahwa masa produktif ayam petelur umumnya berlangsung hingga dua tahun, sehingga diperlukan peremajaan atau penggantian bibit secara berkala agar produksi tetap optimal.

BACA JUGA :  Pemkot Tangsel Bangun Turap di Ciputat Timur, Solusi Banjir yang Dinantikan Warga Selama 20 Tahun

Ke depan, pengelola BUMDes berharap program ketahanan pangan ini dapat terus berlanjut dan berkembang. Evaluasi hasil produksi saat ini akan menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya, termasuk kemungkinan penambahan populasi ayam dengan bibit baru.

“Kami berharap usaha ini terus berjalan. Nanti kita lihat hasilnya, kalau berhasil akan dilanjutkan dengan pengadaan bibit baru,” tambah Saipuloh.

Program ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan pangan desa, tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat melalui distribusi hasil ternak yang berkelanjutan.

#Maria

Facebook Comments

Redaksi

Media Online

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *