1 Desember 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Tim Indonesia Berhasil di Peringkat Kedua Tahap Grand Final Kompetisi Schneider Electric Go Green in the City 2016

3 min read

Jakarta,citranewsindonesia,— Schneider Electric, perusahaan global di
bidang pengelolaan energi dan automasi mengumumkan para pemenang Grand Final Go Green in the City 2016 yang baru saja dilangsungkan
tanggal 19-22 September lalu di Paris, Perancis. Sangat membanggakan bahwa tim
Scarf dari Indonesia yang beranggotakan Nabila Astari dan Stephanie Rawi dari
Universitas Indonesia dengan konsep “Droplock Turnstile Gate” berhasil mengharumkan
nama Indonesia dengan menjadi pemenang kedua kompetisi tingkat global ini.
Selain itu, tim Indonesia juga berhasil mendapatkan penghargaan “Employee
Favorite Award” berdasarkan voting yang dilakukan secara internal oleh karyawan
Schneider Electric di seluruh dunia. 

GGITC merupakan
kompetisi global tahunan yang diselenggarakan oleh Schneider Electric
berdasarkan fakta bahwa efisiensi energi di perkotaan merupakan sesuatu yang
mutlak dilakukan. Oleh karena itu, Schneider Electric mengajak para mahasiswa di tingkat sarjana, pasca
sarjana atau MBA dari seluruh dunia untuk ikut serta dalam tantangan yang
diberikan dalam kompetisi ini. Melalui tim yang terdiri dari dua orang, dimana
salah satunya harus berjenis kelamin wanita, mereka wajib mengirimkan satu konsep
yang mengilustrasikan ide solusi pengelolaan energi inovatif untuk Kota Pintar.

Nita Herawati selaku Human
Resources Director Schneider Electric Indonesia mengatakan, “Kemenangan tim
Scarf semakin mengukuhkan kenyataan bahwa generasi muda Indonesia memiliki
kemampuan untuk berinovasi dan membuat terobosan dalam menciptakan kehidupan
perkotaan yang lebih baik dan cerdas, terutama dari segi efisiensi energi.
Konsep yang mereka angkat sangat dekat dengan mobilitas masyarakat perkotaan
dan mampu memberikan efek yang sangat positif untuk mencapai efisiensi energi.”
Ungkapnya Kamis (29/09/2016) Kepada Wartawan

Di tingkat grand final ini, tim Anemoi dari Jerman
berhasil meraih predikat Juara Pertama, disusul dengan Tim Scarf di posisi
kedua dan tim Holoenergy dari Brasil di posisi ketiga. Sebelum melanjutkan ke tahap
grand final tingkat dunia, Nabila dan
Stephanie telah berhasil menjadi juara pertama di tingkat nasional, dan dilanjutkan
dengan kemenangan di tingkat East Asia.

Tim Scarf memfokuskan
konsepnya pada peluang efisiensi energi yang dapat dicapai dengan memanfaatkan
mobilitas masyarakat yang setiap hari menggunakan TransJakarta. Dengan 45 rute
yang tersedia, setiap harinya TransJakarta mengangkut kurang lebih 330.000
penumpang menggunakan 669 armada bus dan 227 halte yang ada di sepanjang
koridor. Setiap harinya, 330.000 penumpang ini melewati dan menggerakkan 681
buah pintu putar tiga kaki atau droplock
turnstile gate
, dimana masing-masing halte rata-rata memiliki tiga buah gate.

Pergerakan dari setiap orang yang menggunakan
kartu akses dan melewati gate akan
mengaktifkan generator khusus yang ada di dalam gate dan menghasilkan energi listrik. Pergerakan satu orang
penumpang setiap melewati gate dapat
menghasilkan 0,03 kW dimana setiap jam rata-rata ada 30 orang yang memasuki
halte. Dengan jam operasional 17 jam
per hari, maka setiap harinya sebuah halte TransJakarta dapat menghasilkan 15,3
kWh listrik, yang dapat dipergunakan untuk menghidupi perangkat card reader pada gate, menerangi halte, ataupun disimpan di dalam baterai untuk
menghidupi charging spot atau
televisi.

“Kunci kemenangan Tim
Scarf terletak pada orisinalitas ide, pemenuhan aspek energi ramah lingkungan
serta kesiapan alat ini untuk diimplementasikan. Beberapa waktu lalu, Nabila dan
Stephanie, didampingi oleh tim dari Schneider Electric, telah menemui Unit
Pengelola TransJakarta untuk memperkenalkan dan mempresentasikan konsep
‘Droplock Turnstile Gate’. Konsep ini mendapatkan sambutan yang sangat baik
dari pihak TransJakarta, dan saat ini prototype-nya
sedang dalam tahap penyelesaian. Tidak hanya bisa dipakai di halte Transjakarta,
area layanan publik lainnya yang menggunakan pintu putar tiga kaki seperti
stasiun dan tempat wisata juga dapat menggunakan solusi ini. Semoga inovasi berupa
energi terbarukan ini dapat segera diimplementasikan untuk menunjang
terciptanya Jakarta Smart City,” tutup Nita. (Red)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe for notification