20 Mei 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

PPL Kobar Juarai Festival Karya Penyuluh di Peda XI KTNA 2016

3 min read
Kalteng,CitranewsIndonesia– Dua orang Penyuluh Pertanian Lapangan
(PPL) Kabupaten Kotawaringin Barat Juarai Festival Karya penyuluh dalam
kegiatan Pekan Daerah XI Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Tingkat
Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2016 yang digelar selama 5 hari sejak
tanggal 25 hingga 30 Juli 2016 di Desa Kanamit Jaya Kecamatan Maliku
Kabupaten Pulang Pisau Provinsi Kalimantan Tengah. 
Furnadi, S.ST dan
Frans Kely, SP ., PPL yang ikut bersaing di Festival Karya Penyuluh
berhasil membawa pulang piala penghargaan sebagai juara satu atas
inovasi yang mereka gagas. 
Inovasi kedua orang PPL Kobar ini dalam
penerapan alat tanam tugal modifikasi dalam meningkatkan luas tanam padi
mampu menyingkirkan pesaing-pesaing dari 14 kabupaten/kota lainnya
se-Kalimantan Tengah. 
Selain prestasi tersebut, karya kedua PPL tersebut
juga masuk sebagai nominator karya tulis ilmiah bersama 5 orang
penyuluh kabupaten kobar dan diundang untuk pemaparan karyanya di
Kementrian Pertanian. 
Pekan Daerah (PEDA) Kontak Tani dan Nelayan
Andalan (KTNA) itu sendiri merupakan acara pertemuan Kontak Tani-Nelayan
yang digagas oleh para tokoh tani-nelayan sejak tahun 1983. 
Dalam
kegiatan tersebut petani-nelayan dalam suatu wilayah provinsi maupun
nasional dapat melakukan konsolidasi, pengembangan diri, tukar menukar
informasi, apresiasi, kemitraan dan promosi hasil pertanian,
perikanan-kelautan dan kehutanan yang diselenggarakan secara teratur dan
berkelanjutan.
Kepala Kantor Penyuluhan Pertanian dan
Ketahanan Pangan (KP2KP) Kabupaten Kotawaringin Barat, Ir. Abet Nego,
M.Si, mengharapkan agar prestasi yang diraih oleh PPL Kobar di even-even
seperti ini terus ditingkatkan sehingga kedepannya tidak ada lagi
anggapan bahwa penyuluh kurang aktif di lapangan. Banyak diantara PPL
Kobar yang telah menorehkan prestasi baik di tingkat kabupaten, provinsi
maupun nasional namun belum diketahui masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Kasi
Pengembangan SDM, Kelembagaan dan Tata Penyuluhan Pertanian, Peternakan
dan Perikanan KP2KP, Syahyani, SP, MP., mengatakan bahwa prestasi yang
diperoleh kawan-kawan penyuluh ini bukan diperoleh dengan cuma-cuma
melainkan dengan penuh kesungguhan dan usaha keras. 
Syahyani juga
berharap kepada penyuluh-penyuluh yang lain agar prestasi ini dapat
dijadikan sebagai motivasi sehingga kedepannya diharapkan banyak lagi
Furnadi-Furnadi dan Frans Kely-Frans Kely lainnya yang mendapatkan
prestasi serupa. 
“Harapan saya juga dari enam nominator, saudara Furnadi
dan Frans Kely minimal dapat menjadi peringkat dua dan Insya Allah pada
peringatan hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 2016 akan diundang ke
jakarta oleh Presiden RI”.
Pada Umumnya kegiatan usaha tani padi
yang dilakukan oleh petani di wilayah Kalimantan termasuk Kotawaringin
Barat ini kebanyakan masih menggunakan cara tradisional yaitu tugal.
Metode ini tentu saja kurang efisien karena membutuhkan waktu lama, juga
tenaga dan biaya yang besar sehingga mempengaruhi peningkatan luas
tanam padi. 
Berbekal pengalaman sebagai PPL selama hampir enam tahun,
penulis utama yaitu Furnadi, S.ST, menggagas inovasi ini di wilayah
kerjanya, Desa Tanjung Putri. Alat tugal modifikasi didesain dengan tiga
komponen yaitu alat utama (bagian yang digunakan untuk menancap kedalam
tanah), pipa paralon dan katup penutup. 
Benih yang dimasukkan ke dalam
alat tugal ini akan keluar secara otomatis ketika tugal ditancapkan ke
tanah. Adapun jumlah benih yang keluar dari alat utama tergantung dari
lubang saluran yang dibuat dan benih yang digunakan dalam penanaman.
Inovasi alat tugal modifikasi ini telah
diuji kepada tiga puluh orang petani di Desa Tanjung putri yang memiliki
luasan lahan antara satu sampai dua hektar. Dengan alat tugal
konvensional diperlukan waktu sekitar tujuh sampai sepuluh hari untuk
menyelesaikan lahan seluas satu hektar. 
Sementara dengan alat tugal
modifikasi ini, petani hanya memerlukan waktu dua sampai empat hari
untuk menyelesaikan penamanan padi dengan luasan lahan yang sama. 
Efektivitas inovasi yang digagas oleh PPL Desa Tanjung Putri ini tentu
langsung bisa dirasakan oleh petani binaannya. Mereka dapat lebih
menghemat waktu, tenaga dan biaya dengan sebuah inovasi sederhana namun
manfaatnya luar biasa. 
Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan sebagai
proses penyampaian inovasi kepada petani agar dapat mengadopsi inovasi
yang ditawarkan, mengusahakan kemudahan, memberikan bimbingan teknis dan
pengelolaannya. 
Kondisi ini memang tidaklah mudah. Didalam prakteknya,
penyuluhan menuntut kerja keras, kesabaran dan waktu yang cukup lama
karena aktivitas penyuluhan merubah perilaku seseorang serta membantu
orang lain agar dapat membantu dirinya sendiri. (8 Agustus 2016)
Sumber : Humas Press Release
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI CITRANEWS    OK TERIMAKASIH