28 November 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Bripda Eka, polwan yang nyambi jadi tukang tambal ban

3 min read
Jakarta,Citraindonesianews- Kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan ternyata
tidak membuat sosok gadis berparas manis ini putus asa. Meski ayahnya
hanya seorang buruh tukang tambal ban, malah membuat Bripda Eka Yuli
Andini (19) bersemangat dalam menempuh masa depan sebagai polwan.

Gadis
lulusan SMK Negeri 2 Salatiga jurusan Teknik Komputer dan Jaringan ini,
dengan mulus lolos tanpa uang sogokan menempuh pendidikan kepolisian
Pusdik Binmas, Banyu Biru, Ambarawa, Jawa Tengah. Selain itu, selama
menempuh masa pendidikan sebagai Sekolah Calon Bintara (Secaba),
berhasil mengukir prestasi rangking tujuh dari 7.000 peserta lainnya
saat pendidikan kepolisian se-Indonesia.

Meski, sudah dua bulan
menjadi polwan, Bripda Eka, panggilan sehari-harinya tidak pernah lupa
disela-sela kesibukannya sebagai abdi negara tetap membantu profesi
ayahnya sebagai buruh tukang tambal ban di Jalan Veteran, Pasar Sapi RT 2
RW 6, Kota Salatiga, Jawa Tengah dan bengkel.

Di rumah kontrakan
sekaligus bengkel yang hanya berukuran 6 X 6 meter ini Bripda Eka jika
lepas piket di Mapolresta Salatiga, Bripda Eka membantu kesibukan orang
tuanya melayani langganan tambal ban ayahnya. Kesibukannya ini
dilakukannya sejak duduk di bangku sekolah mulai SMP hingga SMK.

Anak
pertama dari dua bersaudara pasangan Sabirin (49) dan Darwanti (40) ini
awalnya sama sekali tidak terbayang dibenaknya untuk menjadi seorang
Polwan. Padahal awalnya, Bripda Eka ingin bekerja di sebuah stasiun
televisi besar berskala nasional. Makanya, dirinya mengambil jurusan
Teknik Komputer dan Jaringan agar mahir dalam bidang editing gambar dan
animasi di televisi atau bidang broadcasting.

“Orangtua saya
nggak pernah mengarahkan. Saya awalnya pingin kerja di broadcast, bagian
editing dan ahli animasi karena saya ingin bekerja di stasiun tv
terkenal. Pernah membuat web dengan teman-teman. Suka saja ngedit video,
ngedit foto pokoknya yang berbau desain grafis lah,” ungkapnya saat
ditemui merdeka.com Selasa (25/2) di RSUD Salatiga di
Bangsal Kelas 3 Flamboyan, Kota Salatiga, Jawa Tengah menunggui ayahnya
Sabirin yang sedang sakit.

Namun, menjelang kelulusan, Bripda Eka
mendapat dorongan dari Mara Tilofashanti salah satu guru multimedia
komputer di SMK Negeri 2 Salatiga yang saat itu ada sosialisasi
penerimaan polwan dari Polresta Salatiga. Bripda Eka kemudian mencoba
mengadu nasib dan keberuntungan mengikuti seleksi penerimaan Secaba
Polri di Kota Semarang, Jawa Tengah.

“Sebelum jadi polwan.
Awalnya aku sempat daftar salah satu perusahaan perkabelan automotif di
PT Autocom di Subang, Jawa Barat. Saat itu tes tertulis dulu. Terus
dapat panggilan ke Semarang untuk seleksi setelah tes kesehatan di
Polri. Kemudian bebarengan, saya milih seleksi di Polri saja kemudian
mengikuti tes kesehatan dan membatalkan untuk tes di PT Autocom. Ingin
cepet kerja biar bisa bantu ayah dan tidak menambal ban terus,” tutur
gadis berkelahiran 30 Juli 1996 ini.

Bripda Eka kepada merdeka.com
sempat mengaku tidak percaya diri karena gadis berparas imut ini hanya
memiliki tinggi badan 156 dengan berat hanya 48 saja. Namun, karena
mendapat dorongan dari teman-teman sekolah, orangtua dan gurunya,
akhirnya bersama 19 teman satu sekolahnya Bripda Eka mengikuti proses
seleksi Secaba Polri.

“Ada teman-teman daftar sekitar sekelas
lima sama saya. Kalau satu sekolah SMK Negeri 2 Salatiga ada sekitar 20
teman sama saya. Terus daftar, saya khan tinggi badan pas-pasan banget.
Kok kayak tinggi badan ngepres. Di bujuk Bu Mara, udah gak papa ikut
saja, tahun kemarin ada 7.000 polwan diterima. Kapan lagi ada kuota
seperti itu. Eh, ternyata sekarang sudah jadi Polwan. Alhamdulillah saya
jadi rangking tujuh selama pendidikan 1,5 bulan di Banyu Biru,
Ambarawa,” ungkapnya.

Meski telah berhasil menjadi anggota polwan, sosok Bripda Eka tetap menunjukkan kesederhanaannya. Bagaimana tidak, saat merdeka.com
menemuinya baju, celana dan sepatunya yang dikenakan baju tak bermerek.
Kesantunan dan kepatuhan kepada kedua orangtuanya pun tetap dijaga.

Terbukti,
saat menunggui ayahnya Sabirin yang sedang sakit paru-paru, dengan
setia bersama ibu dan adik semata wayangnya Arjuna Dwi Bagaskara (16)
yang saat ini juga duduk di bangku sekolah SMK Negeri 2 Salatiga seperti
dirinya. Meski dirinya kini telah sibuk bertugas sementara di Unit
Shabara Polresta Salatiga, Jawa Tengah.(Sumber Merdeka.com)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe for notification