Festival Budaya Manggarai Bersama Ikamada Berjalan Lancar

JAKARTA|| citranewsindonesia.com  – Semangat melestarikan budaya leluhur mewarnai penyelenggaraan Festival Budaya Manggarai yang digelar di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Festival ini menghadirkan atraksi tari Caci, Danding, musik tradisional hingga kuliner khas Manggarai sebagai upaya memperkenalkan sekaligus menjaga warisan budaya kepada generasi muda, khususnya masyarakat Manggarai yang tinggal di Jabodetabek.

Festival yang mempertemukan warga Manggarai dari berbagai daerah tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan identitas budaya. Pertunjukan utama berupa tari Caci berlangsung dengan menjunjung tinggi nilai sportivitas, persaudaraan, dan rasa hormat antarpeserta.

Sebelum pertunjukan dimulai, seluruh perlengkapan yang digunakan dalam atraksi Caci terlebih dahulu diperiksa oleh panitia. Setelah dipastikan memenuhi ketentuan dan aman digunakan, kedua kelompok kemudian melakukan prosesi Danding sebagai pembuka sebelum memasuki arena pertunjukan.

Dalam tradisi masyarakat Manggarai, tari Caci pada masa lampau erat kaitannya dengan ritual pembukaan lahan pertanian, ungkapan syukur atas hasil panen, hingga perayaan tahun baru adat. Seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut berkembang menjadi seni pertunjukan budaya yang mengedepankan sportivitas tanpa menyisakan permusuhan. Nilai kebersamaan, rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta persatuan antarmasyarakat menjadi pesan utama yang terus dijaga.

Pada festival kali ini, peserta tari Caci dibagi ke dalam dua kelompok besar, yakni Zona Timur dan Zona Barat. Masing-masing tim diperkuat sekitar 30 pemain sehingga total terdapat 60 peserta yang terlibat dalam atraksi tersebut.

BACA JUGA :  SMSI Dan LPDS Sepakat Kerja Sama Jaga Kualitas Media Siber

Selain para pemain Caci, festival juga dimeriahkan penampilan penari tradisional atau Sae yang berjumlah sekitar delapan orang serta kelompok Mbata yang memainkan alat musik tradisional untuk mengiringi seluruh rangkaian pertunjukan.

Tidak hanya menyuguhkan pertunjukan seni, festival juga menghadirkan sekitar 20 stan yang diisi komunitas Mekalandang dan tuan rumah. Beragam makanan khas Manggarai menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung yang ingin menikmati kekayaan kuliner dari daerah di Nusa Tenggara Timur tersebut.

Ketua Panitia, Adrianus, mengatakan persiapan penyelenggaraan festival dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Menurutnya, peserta yang tampil berasal dari berbagai komunitas masyarakat Manggarai di wilayah Jabodetabek dan dibagi menjadi dua zona untuk menjaga keseimbangan dalam pertunjukan.

Ia berharap festival budaya seperti ini dapat terus dilaksanakan agar generasi muda tidak kehilangan jati diri dan tetap mengenal budaya warisan leluhur.

“Harapan saya, generasi-generasi kami tidak melupakan budaya leluhur Manggarai,” ujar Adrianus.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal IKAMADA, Yohanes Yosef Nembo, menjelaskan festival mengangkat tema “Reko Beo Tana Kui Agu Kalo”, yang bermakna mengingat kembali kampung halaman serta menjaga agar adat istiadat peninggalan para leluhur tetap hidup dan terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

BACA JUGA :  Ciderai Maklumat Kapolri, HMB Jakarta Nilai Polri Tidak Solid

Menurut Yohanes, kegiatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai komunitas masyarakat Manggarai di Jabodetabek, termasuk IKAMADA Bekasi (Mekalandang) dan komunitas Narabeo Jakarta Barat sebagai tuan rumah penyelenggara.

Ke depan, pihaknya berencana menjadikan festival budaya ini sebagai agenda berkelanjutan. Selain mempertahankan pertunjukan seni tradisional, panitia juga berencana menghadirkan ritual adat pembagian wilayah atau tanah adat yang merepresentasikan berbagai kawasan Manggarai, seperti Manggarai Barat, Manggarai Timur, Manggarai Tengah, hingga komunitas perantau di Bekasi dan Bogor Raya.

Salah seorang pengunjung, Usman, mengaku festival tersebut membangkitkan kerinduan terhadap kampung halaman. Menurutnya, tari Caci, Danding, dan berbagai kesenian tradisional lainnya menjadi sarana mempererat persaudaraan masyarakat Manggarai yang kini menetap di Jabodetabek.

Ia menilai budaya Manggarai tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga mengajarkan nilai kesabaran, kasih sayang, penghormatan terhadap sesama, serta semangat saling menghargai dalam kehidupan bermasyarakat.

#Maria

Facebook Comments

Redaksi

Media Online

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *