21 Mei 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Komitmen Terapkan Lingkungan Bersih di Sekolah, SMP Negeri 3 Tangsel Raih Adiwiyata Mandiri

4 min read
Tangsel,CitranewsIndonesia – Kota
Tangerang Selatan patut berbangga hati, sebab salah satu sekolah di kota
anggrek ini telah mendapatkan penghargaan Adiwiyata Mandiri. Program
sekolah adiwiyata merupakan salah satu program Kementrian Lingkungan
Hidup dalam rangka mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga
sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.
Menurut Kepala SMP Negeri 3 Tangerang
Selatan Maryono, untuk mendapatkan Adiwiyata Mandiri perlu tahapan yang
harus dipenuhi. Minimal pihaknya sudah pernah mendapatkan penghargaan
Adiwiyata Nasional. “Tak mudah dalam berkomitmen menjalankan program
lingkungan ini. Apalagi basisnya sudah tingkat nasional, banyak yang
perlu diperbaiki dan ditata, juga penerapan kebersihan lingkungan pada
siswa,” ungkapnya kepada Web Tangsel.
Maryono mengaku sempat ingin mundur
dalam memperjuangkan program tersebut karena terlalu rumit dan sulit
untuk dijalankan. Namun ternyata, siswa dan guru sangat semangat dalam
mendukung dan menjalankan program ini. “Akhirnya kita putuskan untuk
terus melajutkan program adiwiyata ini. Ternyata siswa jauh lebih
semangat dalam menyiapkan data dan lainnya untuk menuju adiwiyata
mandiri,” paparnya.
Sebab, untuk bisa ikut program Adiwiyata
Mandiri harus bisa memenuhi 4 poin yang dijabarkan menjadi 33
indikator. Semuanya harus bernilai lebih dari 75. Hal ini diungkapkan
oleh Koordinator Adiwiyata SMP Negeri 3 Tangsel Nita Marginingsih.
Poin pertama yakni kebijakan berwawasan
lingkungan. Sekolah harus membuat kebijakan kegiatan yang berwawasan
lingkungan. Selain itu, visi misi pun harus menuju ke lingkungan.
“Sekolah juga harus menjalankan kurikulum berbasis lingkungan. Dalam
pembelajaran harus menerapkan lingkungan. Guru memberikan pengajaran
pada siswa dengan dikaitkan kepada lingkungan, hasil karyanya pun
berbasis lingkungan,” paparnya.
Sebagai contoh, pelajaran matematika
yang biasa belajar mengenai rumus-rumus saja, kali ini dikaitkan dengan
lingkungan. Misalnya saat ada materi himpunan, dicontohkan ada himpunan
sampah organik dan non organik, kemudian dipilah dan dihitung kembali.
Sehingga ada unsur lingkungannya, walaupun dalam pelajaran matematika.
“Selain itu pelajaran PKN, mereka bisa
bermain sosio drama, misalnya tentang kemerdekaan, sewaktu mereka
bermain sosio drama, alat alatnya itu memakai tutup kepala atau baju
yang terbuat dari bahan-bahan bekas,” papar Nita.
Nita menjelaskan, disemua pelajaran yang
ada, harus terdapat soal lingkungannya, namun tidak seluruh tema.
Minimal dalam satu semester mereka bisa mengkaitkanya pada lingkungan
beberapa kali.
Selain dimasukan kedalam pelajaran,
mereka juga mengkomunikasikannya melalui media. Misalnya mading,
facebook, blog, website, dan lainnya. “Hal ini dimaksudkan agar tidak
hanya kita saja yang tau tentang lingkungan, hal ini harus diketahui
orang lain. Dengan memposting hasil lingkungan di media, maka dapat
memberikan ilmu kepada orang yang melihat media tersebut,” ungkapnya.
Selain komunikasi pembelajaran berbasis
lingkungan hidup, sekolah juga harus menjalin kemitraan untuk
kegiatan-kegiatan yang berwawasan lingkungan. SMP Negeri 3 Tangsel
melibatkan orangtua siswa dalam pengetahuan lingkungan hidup. Orangtua
siswa yang berkompeten di bidang lingkungan dilibatkan sebagai
narasumber untuk mempelajari tentang lingkungan.
“Kami juga berkerjasama dengan komite
sekolah untuk mengadakan kegiatan kegiatan berbasis lingkungan. Selain
dengan komite, kami bermitra dengan DKPP Tangsel, BLHD Tangsel dan LSM,”
bebernya. Misalnya dalam pemenuhan fasilitas kebersihan di sekolah.
Pihak sekolah pernah mendapatakan gerobak sampah, tempat sampah, dan pot
dari DKPP Tangsel.
Sekolah juga bermitra dengan  BLHD,
pihaknya meminta penyuluhan tentang duta lingkungan, biopori, dan
masalah masalah pembinaan tentang adiwiyata.
SMP Negeri 3 Tangsel juga pernah
bekerjasama dengan LSM, yakni Lions Club. Mereka pernah menyumbang 1000
pohon yang ditanam di Situ Gintung, Ciputat.
“Kami juga pernah membuat
kerajinan-kerajinan daur ulang seperti kardus susu bekas, bungkus kopi
dan lainnya. Siswa dan guru bersama-sama mempelajari karya daur ulang
untuk dijadikan gantungan kunci, dompet, tempat handphone, tas dan
lainnya. Hasilnya kita pakai sehari-hari, bukan hanya dijadikan pajangan
saja,” paparnya.
SMP Negeri 3 Tangsel juga menyediakan
sarana dan prasarana peduli lingkungan. Sarana yang ada di sekolah
seluruhnya harus peduli lingkungan. Sebagai contoh sekolah tersebut
 memiliki ruangan yang ada ventilasi udaranya.
“Kami juga memiliki green house,
biopori, sumur resapan, ribuan pohon, dan lebih dari 200 jenis tanaman
obat keluarga seperti kunyit, sirih, lidah buaya, kencur, daun kelor dan
lainnya. Hasil dari toga dimanfaatkan untuk pembelajaran siswa, yang
banyak khasiatnya dikonsumsi,” bebernya.
Seluruh sarana dan prasarana sekolah
dirawat oleh guru dan siswa. Biasanya mereka membuat tim khusus untuk
bergantian merawat sarana tersebut.
“Kami juga harus melakukan penghematan
listrik, grafik penurunan listrik kita laporkan. Penghematan kertas juga
kita lakukan, kertas bekas biasa kita jadikan amplop,” jelas Nita.
Di sekolah tersebut juga memiliki kantin
ramah lingkungan. Di kantin tidak boleh menggunakan sterofoam dan
plastik untuk membeli makanan dan minuman. Para siswa diminta untuk
membawa tempat makan dan botol minum jika ingin jajan.
“Dulu sampah banyak ada di mana-mana,
tapi saat ada kebijakan itu, Alhamdulillah dapat mengurangi sampah.
Namun, sampah tersebut tetap dikelola dengan baik. Sampah disimpan di
pembuangan dan dipilah organik dan non organik yang kemudian dijual oleh
OB ke pengepul,” paparnya.
Menurutnya yang paling berat untuk
adiwiyata itu adalah pembiasaan diri kepada anak didik. Dari 1200 siswa
tidak semua peduli dengan lingkungan, namun kembali lagi pada proses.
Pihaknya terus berupaya dan berusaha untuk menerapkan kebersihan
lingkungan.
“Misalnya saat upacara sekolah, kita
pasti mengingatkan pada siswa untuk jaga lingkungan, gerakan sampah
langsung ambil dan buang, lalu di hari jumat ada bersih-bersih,” kata
Nita.
Dirinya menyatakan bahwa pengontrolan
kebersihan ini selalu dilaksanakan. Jika terdapat kelas kotor maka akan
ada denda yang harus dibayar kelas tersebut. Sebab hal ini sudah ada SOP
nya.
Dari ke 33 indikator tersebut, pihak
sekolah menyediakan hardcopynya yang kemudian dibuat macro excel dan
diserahkan kepada panitia provinsi. Setelah dicek oleh panitia provinsi,
jika nilainya diatas 75 maka data diserahkan kepada Kementrian
Lingkungan Hidup.
“Sebagai syarat untuk kita bisa
memperoleh Adiwiyata Mandiri, kita harus bisa mengelola dan mengajak
minimal 10 sekolah binaan. Hal ini tidak mudah, karena 10 sekolah
tersebut harus mau mengikuti langkah kita yang berbasis lingkungan,”
jelasnya. 
10 sekolah binaan tersebut, yakni SMPN
10 Tangsel, SMP Al Fath, SMP Al Syukro, SMP 2 Mei, SMP Bintang Kejora,
SMP Tarakalfia, SMP Harapan Bangsa, SMP Azkia, SMP Pembangunan Jaya, dan
SD Labschool.
Setelah mendapatkan penghargaan
Adiwiyata Mandiri, SMP Negeri 3 Tangsel akan melanjutkannya pada jenjang
yang lebih tinggi, yakno Eco Asean. Namun untuk menuju program tersebut
mereka harus melewati empat tahun dengan terus menerapkan kebersihan
lingkungan. (bpti-ts2)
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI CITRANEWS    OK TERIMAKASIH