Perumda Tirta Benteng Sebut Pipa Warisan Jadi ‘Biang Kerok’ Turunnya Deviden

KOTA TANGERANG || citranewsindonesia.com – Tingginya angka kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW) di tubuh Perumda Tirta Benteng disebut menjadi salah satu faktor utama menurunnya keuntungan perusahaan milik daerah tersebut dalam beberapa tahun terakhir.

Hal itu disampaikan Humas Perumda Tirta Benteng, Yayan, terkait kondisi jaringan distribusi air yang dinilai sudah tua dan rawan kebocoran.

Menurut Yayan, sebagian besar pipa distribusi jenis ACP, GI, dan PVC yang saat ini digunakan telah berusia lebih dari 35 tahun. Kondisi tersebut memicu tingginya kebocoran fisik di lapangan.

“Selain itu, banyak meter air pelanggan yang usia pakainya sudah lebih dari 10 tahun sehingga memengaruhi akurasi pencatatan pemakaian air,” ujar Yayan, Kamis (21/5/2026).

Ia menjelaskan, sejumlah jaringan pipa dan sambungan pelanggan merupakan aset hibah dari Perumdam TKR saat proses penyerahan sekitar 20 ribu sambungan pelanggan pada 2020 lalu.

Kondisi pipa dan meter air yang telah melewati umur teknis tersebut diduga ikut memicu tingginya kehilangan air nonfisik serta menurunkan pendapatan perusahaan.

BACA JUGA :  Polda Banten Edukasi Pencegahan Virus Covid 19 Di Tempat Ibadah Dan Mall Ramayana

Untuk menekan angka kebocoran, Perumda Tirta Benteng mengklaim telah melakukan berbagai langkah perbaikan dalam tiga tahun terakhir.

Di antaranya mengganti sekitar 25 ribu meter air pelanggan sejak 2023 hingga 2025, membangun sistem SCADA guna memantau kebocoran secara cepat, hingga membentuk tim khusus pengendalian kehilangan air.

Selain itu, perusahaan juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada pelanggan terkait penggunaan air dan pelaporan kebocoran.

“NRW berhasil ditekan dari 44 persen pada 2022 menjadi 35 persen di 2025,” kata Yayan.

Meski demikian, kondisi keuangan perusahaan tetap menjadi sorotan publik. Pasalnya, nilai deviden yang disetorkan ke Pemerintah Kota Tangerang mengalami penurunan signifikan dalam beberapa tahun setelah pengalihan pelanggan dari Perumdam TKR.

Berdasarkan data yang beredar, deviden Perumda Tirta Benteng pada periode 2014 hingga 2020 rata-rata berada di atas Rp1 miliar per tahun.

Namun setelah penambahan sambungan pelanggan pada 2020, realisasi deviden turun menjadi sekitar Rp613 juta pada 2021 dan kembali merosot menjadi Rp459,8 juta pada 2022.

BACA JUGA :  Inflasi Di Provinsi Banten Terkendali

Penurunan berlanjut pada 2023 dengan realisasi deviden hanya sekitar Rp324,9 juta. Sementara pada 2025, deviden tercatat melonjak menjadi Rp3 miliar.

Fluktuasi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan dari sejumlah pihak terkait efektivitas pengelolaan bisnis perusahaan air minum daerah itu.

Salah satunya menyangkut besaran produksi air, biaya operasional, nilai penjualan air kepada pelanggan, hingga keuntungan bersih yang dihasilkan perusahaan setiap tahunnya.

Sebelumnya, kelompok GMT sempat berencana menggelar aksi unjuk rasa pada Mei 2026 untuk menyoroti kinerja bisnis Perumda Tirta Benteng pasca menerima sambungan pelanggan dari Perumdam TKR.

Mereka juga mendorong Aparat Penegak Hukum (APH) melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap laporan keuangan Perumda Tirta Benteng guna memastikan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan perusahaan daerah tersebut.

#Iwan H

Facebook Comments

Redaksi

Media Online

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *