Sosialisasi Dan Koordinasi Pembuatan Lubang Biopori Di Kelurahan Jombang

TANGERANG SELATAN || CITRANEWSINDONESIA.COM  – Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, mulai mematangkan pelaksanaan program pembuatan lubang biopori sebagai upaya mengurangi sampah organik sekaligus meningkatkan daya resap air di lingkungan permukiman.

Sosialisasi dan koordinasi program tersebut digelar di Aula Kelurahan Jombang pada Rabu (8/7/2026). Kegiatan dihadiri Lurah Jombang Iwan Sutisna, Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Aris Riyanto, Sekretaris Kelurahan, serta para Ketua RT dan RW se-Kelurahan Jombang.

Dalam pertemuan itu, pemerintah kelurahan membahas kesiapan distribusi sekitar 1.000 pipa biopori yang akan digunakan di sejumlah wilayah sesuai usulan dari RT dan RW.

Kasi Ekbang Kelurahan Jombang Aris Riyanto mengatakan, koordinasi dilakukan agar pelaksanaan program berjalan efektif dan sesuai kebutuhan di lapangan. Menurutnya, usulan lokasi pemasangan biopori berasal langsung dari para pengurus lingkungan.

“Kami berkoordinasi dengan RT dan RW agar pelaksanaan pembuatan lubang biopori berjalan lancar. Usulan lokasi berasal dari masing-masing wilayah sehingga pemasangannya lebih tepat sasaran,” kata Aris.

BACA JUGA :  KH Embay Mulya Syarif Menyatakan Dukungan Kepada POLRI

Ia menjelaskan, tidak seluruh RW di Kelurahan Jombang dapat memperoleh program tersebut. Beberapa wilayah memiliki kondisi tanah dengan muka air yang dangkal sehingga tidak memungkinkan dilakukan pemasangan biopori.

“Di beberapa lokasi, seperti salah satu wilayah di RW 4, kedalaman kurang dari satu meter sudah keluar air. Karena kondisi tersebut, tidak semua RW dapat dipasang lubang biopori,” ujarnya.

Aris menyebutkan, Kelurahan Jombang memiliki 23 RW dan 112 RT. Hingga saat ini, usulan pelaksanaan program telah masuk dari tujuh RW.

Menurutnya, lubang biopori berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah organik rumah tangga, seperti sisa makanan. Sampah tersebut dimasukkan ke dalam pipa yang ditanam sedalam sekitar satu meter sehingga dapat terurai secara alami menjadi kompos.

Selain membantu mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir, metode ini juga dinilai mampu meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah dan mengurangi genangan saat musim hujan.

BACA JUGA :  Benyamin Dorong ASN Tangsel Jadi Pelopor Budaya Bersih, dari Biopori hingga Kurangi Plastik

“Dalam waktu sekitar tiga bulan, sampah organik di dalam lubang biopori dapat berubah menjadi kompos yang bermanfaat. Dengan begitu, sampah tidak lagi berserakan dan bisa dimanfaatkan kembali,” jelasnya.

Aris berharap program yang menjadi bagian dari kebijakan Wali Kota Tangerang Selatan tersebut dapat berjalan optimal di seluruh wilayah yang memenuhi syarat.

“Harapan kami, program lubang biopori ini dapat mendukung pengurangan sampah organik di Tangerang Selatan. Tahun 2026, pemerintah telah mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaannya di 54 kelurahan sehingga manfaatnya bisa dirasakan masyarakat secara luas,” pungkasnya.

Facebook Comments

Redaksi

Media Online

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *