28 November 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Cerpen Semut Gula Manis

5 min read

Karya : Tutut Emalienna 

Sepanjang waktu berjalan dari abad ke abad hingga sekarang,
bahkan semenjak dunia ini lahir banyak sudah yang berbeda dari segala hal. 

Bukan sebuah target dalam hidup, namun hanyalah waktu dan tempat dimanakah akan
pantas untuk di pijaki. 

Akan tetapi tidak ada juga pilihan khusus untuk bisa
menetap lebih lama menjalani kehidupan bersama makhuk hidup lainnnya. Sungguh
sangat di sayangkan, mengapa harus terjadi pada keadaan mereka jika memang
jalan ini akan mengancam setiap langkah kaki dengan jarak bimbang untuk dapat
di ukur.


Semakin jelas keraguan mulai menyambangi setiap gerak-gerik
kemana arah akan di tuju demi melanjutkan kehidupan selanjutnya. Banyak ragam
dan jenis bukan berarti mereka sama, di antara mereka tidak mengenal baik
ataupun buruk. Terkadang mereka serentak melakukan kegiatan dalam bentuk
apapun, maka dari itu tidak dapat di pungkiri bahwa mereka adalah sama halnya
mencari kehidupan seperti layaknya mahkluk hidup lainnya yang ada di muka bumi
ini.

Yang Maha Kuasa telah menciptakan segala sesuatu dalam ragam
yang berlawanan, ada hitam dan putih, ada baik dan buruk, ada benar dan salah
serta ada yang besar ada juga yang kecil. Begitu lah mereka yang sangat
mencintai kebersamaan dan menyukai rasa manis, bagi mereka meskipun di lahirkan
sebagai semut tidak lupa mereka bersyukur jika hidup bukan milik siapapun di dunia
terkecuali milik Nya Yang Maha Kuasa semata.

Dengan kondisi yang di berikan Tuhan, maka para semut dari
berbagai kalangan tetap mencoba mempertahankan keutuhan dalam menjalani
kehidupan dunia fana yang penuh dengan kekosongan ilmu baik dunia akhirat.
Bagaimana tidak, semut berada pada tiap tempat dan sudut karena mereka kini di
berikan kesempatan untuk beradaptasi di manapun mereka mampu. Bentuknya kecil
sangat membuat seseorang merasakan kekesalan sendiri ketika mereka di gigit
sekali pada kulit manusia itu sendiri. Apalagi semut sangat menyukai dan
tertarik dengan aroma manis-manisan, makanya dimana ada gula di situ ada semut.

Banyak jenis semut di antaranya yaitu, semut merah besar dan
kecil serta semut hitam kecil juga besar. Tetapi banyak di antara semut, salah
satu nya dapat membahayakan kaum semut lainnya serta manusia sekalipun adalah
semut api besar. Semut ini sangat cepat dalam melakukan gigitan terhadap siapa
saja yang terlintas di hadapannnya, makanya semut ini di katakan bahaya
sekalipun semut api adalah raja dan penguasa besar di kalangan semut dari
berbagai pelosok di dunia ini.

Tidak dapat di ragukan lagi, ketika manusia harus menahan
rasa sakit san gatal-gatal akibat gigitan semut. Tapi bukan artinya semut
adalah jenis binatang yang buas, dengan ukuran kecil serta tidak dapat di
perkirakan siapapun akan selalu jahat. Malah sebaliknya, terkadang sebagai
manusia yang di berikan akal pikiran yang dapat berpikir jelas juga lebih
membuat kesalahan jauh lebih besar daripada seekor semut api atau raja semut
dunia.

Manusia banyak sekali menyia-nyiakan kesempatan untuk
melaksanakan satu kebersamaan dalam menggapai satu tujuan yaitu untuk
mendapatkan syafaat Nya agar berkah. Tidak ada yang mengetahui jika semut tidak
akan ada yang mampu untuk di hitung baik jumlah ataupun pola sikap gerak
mereka.

Sebagai salah satu binatang yang memiliki kecintaan terhadap
rasa manis merasakan rasa syukur, karena semenjak dahulu sebelum manusia lahir
semut lebih dulu tau bagaimana kehidupan yang sebenarnya, namun sayang mereka
di lahirkan dan di ciptakan hanya sebagai semut.

Hari berganti hari, mereka sibuk mencari tempat tinggal untuk
keluarga masing-masing. Tidak ada bagi mereka kata menyerah dalam berusaha,
dapat di lihat oleh semua mata akan kebersamaan semut-semut waktu berjalan
mengangkat makanan, ataupun bahan dari aroma manis. Mereka bergantian membawa
ketempat dimana telah di sediakan lebih awal untuk persiapan mereka menyatap
makanan tersebut.

Bahkan, disaat berjalan mereka sangat kompak dan serentak.
Tidak ada kata rebutan bagi budaya semut, bagaimana bisa demikian. Dikala
sarang mereka pernah di bongkar oleh beberapa anak-anak kecil nakal sedang
bermain di bawah poho mangga madu, maka saat itu juga mereka para semut kalang
kabut berlarian mencari tempat berlindung agar tidak terkena hantaman keras
kayu drai tangan anak-anak kecil itu.

Tidak dapat di bayangkan ketika itu, banyak sekali semut yang
tidak berdosa harus tewas dan tergeletak terkena pukulan anak manusia.
Seharusnya sebagai manusia dapat berpikir dan melihat mereka meskipun kecil
tetap sebagai mahkluk hidup, jadi untuk apa harus memukul.

Semut juga mempunyai naluri sendiri jika manusia ingin
mengerti dan bisa memahami nasib mereka dengan cara melihat kehidupan
masing-masing manusia seperti apa. Apakah manusia telah diberikan akal sehat
tidak memiliki pikiran, masalah hidup dan lain sebagainya. Dari hal demikianlah
seharusnya manusia dapat belajar dan berpikir lebih jernih karena begitu para
semut merasakan kehancuran ketika istana mereka harus di hancurkan oleh
tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Akan tetapi, bagi semut persoalan tersebut bukanlah suatu
kendala besar mereka untuk terus melanjutkan perjalanan hidup. Bagi anggota
keluarga mereka yang telah pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya, akan
tetap fokus bahwa hidup akan terus berjalan walau badai besar akan menghatam
mereka kembali.

Makanya jika matahari sudah terbenam, saat itulah semut
memiliki waktu untuk terus beraktifitas yaitu mencari makan buat para semut
lainnya. Karena malam adalah hal yang mudah di lakukan dan tidak tertindas oleh
manusia seperti pada waktu matahari terbit. Untuk itu, waktu malam di
manfaatkan semut karena mereka tidak mengenal kata lelah apalagi malas. Namun,
satu hal yang sangat menarik bagi kalangan semut ini adalah rasa manis adalah
kekuatan semut dalam melawan hidup yang kejam. Sehingga jangan heran jika
tercium wanginya rasa manis maka saat itu juga mereka akan segera mengatur cara
untuk bisa mendapatkan manisan tersebut, karena manis adalah kekuatan cinta dan
cahaya dalam bertahan hidup.

Jangan menganggap ukuran kecil akan selalu membuat yang besar
menang, tidak selamanya kemenangan berada di tangan sang penguasa dengan
kekuatan otot tapi tidak menggunakan otak untuk mencari cara ataupun solusi.
Begitulah semut, meskipun kecil tetapi kecerdasannya besar. Semangat
kebersamaannya kuat, tetap mempertahankan manis adalah kekuatan turun menurun
dari abad ke abad mereka sebagai tombak dalam melawan bahaya datang.

Dengan demikian, semut bisa mengajarkan manusia jika manusia
itu sendiri mampu tahu dan memperhatikan setiap kekompakan yang di lakukan
mereka oleh semut. Tidak ada salah nya jika ada manusia berguru pada semut
untuk menyimak bagaimana sebenarnya kebersamaan mereka dalam menyelesaikan
masalah, apakah mereka lari ataukah mereka terus berusaha mencari jalan keluar.

Maka seperti itulah yang tampak dalam dunia juga Negeri kini
sedang di landa berbagai persoalan, akankah mencari jalan keluar atau
sebaliknya pergi dari masalah.

Semut memang kecil tapi semangat mereka sangat dan jauh lebih
besar dari manusia karena semut memperhatikan sesama tanpa harus ada pertikaian
serta perdebatan yang dapat menimbulkan kehancuran dari segi apapun itu.

Segala hal bisa, asalkan mau berusaha karena bagi setiap
mahkluk hidup yang di bumi ini hanya membutuhkan cara sebagai kunci penyelamat
dimana mereka akan berpijak, layaknya semut menggunakan cara untuk mendapatkan
rasa manis karena gula penyebab rasa itu muncul sehingga semut selalu suka akan
bahan gula manis.(Red)
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe for notification