30 November 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Bank Sampah Mendorong Warga Peduli Lingkungan

5 min read
Tangsel,CitranewsIndonesia— Pemerintah
Kota Tangerang Selatan terus berupaya mengatasi dan menanggulangi
masalah sampah perkotaan yang cukup pelik. Penanggulangan masalah limbah
ini dilakukan secara sistematis dan masif, yakni membentuk bank sampah
di tujuh wilayah kecamatan. Melalui program tersebut warga diajak untuk
ikut peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Kepala
Sekretariat Yayasan Bunga Melati Indonesia, Rizka Dwipa Anggana
mengatakan, sudah ada mitra-mitra pengepul yang siap menampung limbah
dari semua bank sampah. Bank sampah ini seperti layaknya lapak mini yang
menampung limbah sampah dengan cara dipilah-pilah terlebih dulu sebelum
ditimbang ke pengepul.

Warga
yang sudah tergabung menjadi nasabah bank sampah memilah limbah di
rumahnya. Kemudian pada hari tertentu disetorkan ke bank sampah, dan
hasilnya dimasukkan ke dalam buku tabungan. Rata-rata bank sampah
beroperasi setiap per dua pekan sekali.

“Kita
inginnya warga tidak masuk ke dalam bisnis sampahnya. Tapi cukup
mengumpulkan saja. Karena kan karakter di sini berbeda, mayoritas adalah
ibu-ibu rumah tangga,” terangnya ditemui WEB TANGSEL di kantornya yang
terletak di Bukit Pamulang Indah F-20/5, Kelurahan Pamulang Barat,
Kecamatan Pamulang, Minggu, 23 Mei 2015.

Orientasi
utama tujuan dibentuknya bank sampah yakni ingin membuka paradigma
tentang pengelolaan sampah yang baik dan benar. Paradigma yang tadinya
terlalu cuek terhadap limbah sampah, kini menjadi lebih peduli karena
ada nilai ekonomis yang dihasilkan dari sampah. Ada sisi yang harus
dilakukan oleh warga, tidak hanya melemparkan tanggungjawab pengelolaan
sampah sepenuhnya kepada pemerintah.

Memang
di dalam struktur organisasi tata kerja pemerintahan sudah ada
bagian-bagian yang punya tanggungjawab terhadap pengelolaan sampah.
Namun, sampah juga termasuk tanggungjawab masyarakat selaku penghasil
sampah rumah tangga. Jadi ketika warga aktif melakukan pemilahan sampah,
ada sejumlah elemen atau jenis sampah yang tidak dibuang begitu saja.

Hingga
kini tercatat jumlah kelompok warga binaan dari Melati Indonesia ada 43
unit bank sampah. Hasilnya telah dapat dikalkulasikan dalam kurun waktu
1,5 tahun. Dari sekitar 20 unit bank sampah yang aktif telah mampu
mengumpulkan sampah sebanyak 210 ton dengan total uang mencapai sekitar
Rp 270 juta.

Setiap
warga yang ikut terlibat dalam bank sampah ketika menyetorkan hasil
pilahan limbah yang ditimbang mempunyai buku tabungan. Biasanya uang
hasil tabungan dari memilah dan menyetorkan limbah ke bank sampah
diambil oleh warga setahun minimal tiga termin. Tapi umumnya warga
mengambil uang tabungan dalam setahun ada dua kali. Yakni, ketika
memasuki tahun ajaran baru sekolah dan jelang hari lebaran.

“Ramainya
pas musim anak sekolah dan lebaran. Kalau rajin banget satu tahun bisa
Rp. 1 jutaan (per orang). Tapi ada juga yang memang bank sampah tidak
bisa menahan ketika ada orang ingin mendapatkan penghasilan dari
mengumpulkan sampah,” terang Rizka.

Ia
menceritakan sejarah singkat perjalanan Yayasan Melati Indonesia ikut
terjun membantu Pemerintah Kota Tangerang Selatan mengatasi masalah
sampah sejak 2013 silam. Setelah ikut melakukan studi banding ke
sejumlah daerah seperti Kota Yogyakarta dan Malang, pihaknya pun
memutuskan untuk turut memberikan sumbangsih dengan membentuk bank
sampah di Kota Tangerang Selatan.

Meski
diakuinya tak mudah, Rizka bilang, Melati Indonesia memposisikan
dirinya sebagai motivator bagi warga agar mau peduli terhadap masalah
sampah perkotaan.Melalui penghasilan yang diperoleh Yayasan Bunga Melati
Indonesia setiap bulannya, pengurus menyisihkan uang sebagai zakat.
Hasil zakat yang telah diinfaqkan berupa pembuatan buku tabungan,
spanduk dan fasilitas lainnya bagi warga yang ingin membentuk bank
sampah di lingkungan rumahnya masing-masing.

“Jadi
warga enggak usah mikirin bikin tabungan, kita dorong saja biar jalan.
Mulai dari situlah awalnya, dan kita bikin di komplek ini. Ternyata
memang tidak mudah, akhirnya setelah kita ajak ngobrol terus akhirnya
pengurus lingkungan mau juga,” kenang Rizka.

Setelah
enam bulan lamanya merintis dengan susah payah dan ternyata berhasil,
akhirnya pembentukan Bank Sampah Melati Bersih dijadikan proyek
percontohan (pilot project). Rizka menegaskan, landasan awal pembentukan
Bank Sampah Melati Bersih adalah ingin menjadi motivator bagi warga
agar mau dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

Hasil
yang paling signifikan diperoleh dari terbentuknya bank sampah ini
adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Supaya warga
tak lagi cuek memperlakukan limbah rumah tangga. Warga bisa lebih
menghargai lingkungannya agar bersih dan asri, ditambah mendapatkan
penghasilan dari hasil pengumpulan limbah.

“Kalau
dalam satu keluarga ada istri yang peduli sampah, paling tidak akan
tertular ke suaminya dan anak-anaknya mau ikut. Sekarang saya lihat
mulai nular, ada anak-anak yang sekarang setelah jajan terus kemasannya
enggak lagi dibuang, tapi dikumpulkan di rumah. Itu sudah lumayan, sudah
cukup bagus dari pada dia buang sembarangan,” tegasnya.

Terpisah,
Kepala Seksi Pengangkutan dan Pengumpulan Sampah, Dinas Kebersihan
Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Kota Tangerang Selatan, Wismansyah Musa
menjelaskan, masalah sampah perkotaan diakuinya merupakan sebuah
fenomena benang kusut yang mesti diurai. Tentunya untuk mengatasinya
perlu diterapkan metode khusus dan komprehensif, diantaranya yakni
membentuk bank sampah secara masif.

“Manajemen
kontrolnya harus kita ubah. Juga mindseat (pola pikir) masyarakatnya,
karena mengatasi sampah bukan hanya menjadi tanggungjawab DKPP saja.
Tapi perlu ada keterlibatan aktif dari satuan kerja perangkat daerah
lainnya dibantu penuh oleh masyarakat. Salah satu yang efektif yang
membentuk bank sampah dilingkungan pemukiman warga,” terangnya ditemui
WEB TANGSEL di kantornya Komplek Perkantoran Pemerintahan, Witanaharja,
Kecamatan Pamulang, kemarin.

Wisman
memaparkan, hingga kini tercatat sudah ada 55 dari 103 unit bank sampah
secara aktif mengoperasikan pengumpulan limbah. Dicontohkannya, seperti
Bank Sampah Puri Bintaro Hijau yang terletak di Jalan Perumahan Puri
Bintaro Hijau RT 04 RW 08, Kecamatan Pondok Aren. Lembaga yang dibentuk
sejak 5 Maret 2013 silam mempunyai 245 nasabah dengan total tabungan
mencapai Rp 19,5 juta.

Kemudian
juga pada Bank Sampah Berlian yang terletak di Jalan Cemara 1 RT 01 RW
01 Pamulang Barat, Kecamatan Pamulang, terdapat 105 nasabah telah mampu
mengumpulkan uang hasil tabungan limbah mencapai kisaran Rp 30 juta
dengan total timbangan sekitar 25 ribu kilogram. Bank Sampah Sampurna di
Jalan Buntu Raya RT 03 RW 08 Nomor 5, Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur
dari jumlah 117 nasabah, total sampah yang ditimbang sebanyak 19,9 ton
dengan total uang tabungan mencapai Rp 33 juta.

Berikut
juga pada Bank Sampah Melati Bersih Amarapura RW 05, Kademangan,
Kecamatan Setu ini dari 170 nasabah telah mampu mengumpulkan limbah
sampah mencapai 400 ton yang total uang terkumpul sebanyak Rp 25 juta.
Wisman mengutarakan, dari hasil pilahan dan olahan limbah rumah tangga
yang dikelola oleh bank sampah bisa menghasilkan beragam jenis produk.

Produk
hasil sentuhan tangan kreatif warga seperti tas, sandal, vas bunga,
dompet dan lain sebagainya itu telah mampu mengisi pangsa pasar domestik
dan internasional. Tak hanya bank sampah yang ada di sekitar pemukiman
warga saja. Wisman memastikan bila DKPP Kota Tangerang Selatan sendiri
sudah punya bank sampah internal yang dikelola oleh para pegawai. Pada
Jum’at setiap pekannya, para pegawai menimbang limbah berhasil
dikumpulkannya secara mandiri.

“Sampah
kalau bisa dikelola dengan baik tentunya punya nilai ekonomis. Rencana
kami program bank sampah ini akan digulirkan ke semua SKPD. Biar bisa
menjadi contoh bagi semua pegawai di Pemkot Tangsel, kalau sudah begitu
harapannya bisa ditularkan ke lingkungan di rumahnya masing-masing ,”
utaranya.(bpti-ts)

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe for notification