1 Desember 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Himpitan Ekonomi : Ibu Rela Pergi Pagi Pulang Petang

2 min read
Tangerang, Citraindonesianews
  –   Mencari pekerjaan bukanlah hal mudah seperti membalikkan telapak
tangan, apalagi bila dibarengi dengan pengetahuan dan pengalaman yang
terbatas.
Seperti halnya dengan Ibu Sri (34), warga Desa
Bojong Renged, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, yang
sehari-harinya bekerja sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT). Dia menjadi
PRT dengan alasan tidak mempunyai Ijazah untuk mengajukan lamaran
pekerjaan di perusahaan.
“Maunya sih begitu (bekerja di
perusahaan), cuma gimana sayanya bisa diterima? Modal KTP doang kan gak
bisa, lagi ijazah gak punya”, katanya saat ditemui di tempat dia
mengasuh anak, Jumat (6/3).
Selain mengasuh anak majikannya, dia juga terkadang mempunyai pekerjaan yang lain.
“Ya,
kalo majikan saya di rumah kan (kami) gantian jaga anak, saya nyapu,
ngepel, nyuci pakean, bahkan terkadang nyetrika pakaian”, lanjutnya.
Saat ditanya mengenai gaji dan pembagiannya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, dia hanya pasrah dan menerima keadaan.
“Sebulannya
saya diberikan gaji delapan ratus ribu, itu kotor, karena tidak dapat
makan… kalau makan kudu beli dulu, keluar duit sendiri”.
“Saya
juga punya tanggung jawab lain, anak saya dua orang, yang satu udah
kelas VIII SMP dan satunya lagi kelas VI SD”, jelasnya.
“Yah cukup gak cukuplah gaji segitu mah”, tambahnya.
Ibu
dari dua orang anak inipun, mengaku waktu luang untuk bersama
anak-anaknyapun sangat sedikit; dan bahkan kalau diantara mereka ada
yang sakit, dia harus mencari pinjaman uang untuk keperluan berobat.
“Setengah enam pagi saya udah disini (di rumah majikan), dan jam enam sore saya pulang ke rumah”…
“Kalo
anak saya ada yang sakit atau keperluan apa, saya kudu cari pinjaman
(uang) sama tetangga, gajian baru saya bayar” jelasnya lagi.
Hal
inipun dibenarkan oleh seorang temannya, bahwa selain dia bertanggung
jawab dalam keluarganya, Ibu Sri ini juga mempunyai kewajiban lain,
seperti membayar uang sekolah kedua anaknya.
“Saya sebenarnya
sangat kasihan melihat dia dengan keadaan seperti ini setiap hari,
mengurus anak orang, mengurus anaknya, dan membayar uang sekolah
anak-anaknya setiap bulannya”, kata temannya itu, Samroh (39).
Diapun sangat mengharapkan supaya kedua anaknya itu akan sukses kelak, tidak seperti apa yang selama ini mereka alami.(RahmaT)
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe for notification