30 November 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Kerak Tambak Menuai Berkah

6 min read
Aceh
Utara,(CitraIndonesiaNews) – Semilir angin sore
mempermainkan dedaunan pohon kelapa, juga sebagian rumput –rumput kecil
ikut
tersibak.  Jalanan penuh senyuman, meski
cahaya surya memancarkan sinar ke arahnya hingga menembus celah – celah
kaos tipisnya.  

Mursal, demikian panggilan bocah berumur 12 tahun itu
yang sedang bermain sepeda dalam setiap waktu luangnya, tidak peduli
dengan panas matahari membakar kulitnya. Terus dia mendayung sepedanya
pelan di jalan bertanah kan hitam pekat. Namun dia menghentikan sepeda
dan langkahnya
yang semula berniat untuk melihat panorama laut Lapang Lhoksukon,
menurut
cerita orang – orang lautnya indah.

Akan tetapi, ada pemandangan yang jauh lebih indah dan
memberikan ketakjuban bagi setiap orang apalagi bagi mereka sebagai pendatang
baru. Terlihat deretan – deretan rumah kecil kumuh beratapkan daun rumbia,
serta dinding dari kulit bambu. Sungguh tiada terduga, sudah 69 tahun Indonesia
merdeka masih ada bagi rakyat kecil yang ternyata memanfaatkan rumah tersebut
bagian dari kehidupan mereka untuk mencari rezeki demi menopang hidup. Rumah
yang terletak di antara tambak – tambak gagal dan kering ini, sebagaimana
dulunya menjadi tempat peliharaan berbagai jenis ikan juga udang, kini di jadikan
tempat pembuat garam.
Tidak ada tanda untuk mengabaikan kesempatan ini, garam
merupakan salah satu bagian yang di butuhkan oleh tubuh dan sebagai alat dapur
serta bisa menjadikan pelindung oleh hisapan lintah. Meski mempunyai rasa asin,
banyak orang terpesona akan keindahan warnanya putih bersih berartikan suci
dalam Islam. Disini, adalah tempat pembuat garam tanpa bahan pengawet seperti
zat – zat kapur yang mengandung obat agar garam tampak baru dan tahan lama.
Selain
dari pada kegunaan garam itu dapur adalah, benar masakan tanpa garam
tentu akan hambar rasanya. Sudah jelas sebagai bumbu masakan garam
ternyata juga bisa untuk kesehatan kulit, karena tekstur garam yang
kasar sangat berguna untuk penglupasan kulit. Selain itu garam sebagai ”
scrub” bahan alami yang tidak mengandung pasir silika sehingga tidak
berbahaya. Garam juga memiliki efek anti bakterial terhadap kulit. Oleh
sebab itu “scrub” garam dapat membantu menghilangkan jerawat. Rasa lelah
dan linu pada kaki bisa diredakan dengan bantuan garam.  Dengan
demikian garam juga dapat meredakan ruam di kulit akibat alergi dan
infeksi. Garam secara alami dapat menyerap minyak dari kulit sehingga
mampu mencegah timbulnya jerawat.
Hampir sebagian dari masyarakat desa Matang Tunong Kecamatan
Lapang Lhoksukon ini menggeluti pekerjaan sebagai pembuat garam. Salah
satunya adalah Pak Marbawi (30) yang di temui Citra Indonesia di mana
tempat dia bekerja, Jum’at (14/11). Pak Marbawi memberikan menjelaskan
secara detail mengenai pembuatan garam tersebut, dan dia juga
menyampaikan bahwa dia bersama keluarganya sudah menjadi turun temurun
dalam menjalani pekerjaan demikian. Bahkan, dia mengakui sebagian alat
untuk memasak garam adalah peninggalan almarhumah neneknya yang sekian
tahun lamanya, dan tetap di jaga hingga saat ini.
Dari hasil liputan Citra Indonesia, Pak Marbawi merasa senang
walau menjadi tukang pembuat garam, baginya ini bukanlah hal yang memalukan
untuk manusia melainkan di mata Yang Maha Kuasa sendiri. Di lakoninya pekerjaan
ini sudah sangat lama hingga dia menikah dan mendapatkan seorang anak yang kini
masih bersekolah di SD.
Tidak dapat di pungkiri, jika dalam daerah sendiri masih ada
terciptanya hasil karya anak negeri, sebagai tuan rumah seharusnya bagi para pemimpin
Aceh khususnya bisa  bangga, serta
mengutamakan keperluan mereka untuk bekerja dan memberikan apresiasi kepada
yang layak di dapatkan. Pak Marbawi bersama teman – temannya seperti pak
Muhammad Amin (55) juga memiliki pekerjaan yang sama tanpa kenal lelah terus
berusaha menghasilkan garam – garam yang alami walau di pasaran kualitas garam
ini rendah jika di bandingkan dengan garam produk lain.
Namun, di akui banyak orang garam yang di hasilkan para
pembuat garam alami ini lebih banyak di minati. Di karenakan, rasa masakan
lebih sempurna dan tiada merasa khawatir seperti sebelumnya. Dimana garam ini
banyak yang belum membelinya, terkadang bagi ibu – ibu berpikir dan membedakan
antara garam alami dan bukan. Seperti salah seorang ibu Diana warga desa Blang
Rheuh mendatanginya tempat pembuatan garam dan membelinya dengan harga 20 ribu
rupiah. Kepada Citra Indonesia dia mengatakan ”Saya sering membeli garam di
sini bersama ibu – ibu lainnya juga, karena garam ini selain alami ketika
dimasak dan di campur kuah sebagai penyedap rasa terasa lebih enak dan tidak
ada lagi rasa pahit seperti garam – garam yang kami beli di pasar”, katanya.
Mengingat perekonomian masyarakat makin hari semakin rendah,
akibat harga barang – barang di pasaran naik, belum lagi jika bandingkan dengan
harga BBM sekarang ini seharga 1 liter menjadi 7.000 ribu rupiah. Untuk itulah, Pak Marbawi dan sebagian teman – temannya
berjuang siang malam supaya bisa menghasilkan garam tiga sampai empat sangkur ukuran 80 liter air dengan hasil garam 50 kg.
Untuk memasak garam tersebut di perlukan kesabaran menunggu
hingga garamnya benar – benar matang. Waktu yang di perlukan untuk satu garam
ukuran sangkur besar itu adalah empat jam. Teknis yang di gunakan oleh Pak
Marbawi yaitu, dia sudah mempersiapkan kayu – kayu balok kering untuk di masukkan
ke dalam bara api lainnya agar apinya menyala lebih panas dan air garampun
lebih cepat mendidih.
Sangat tidak mudah jika hanya di bayangkan saja, karena tidak
akan ada hasilnya. Akan tetapi, persiapan untuk membuat garam ini juga harus
melihat waktu dan keadaan alam. Ketika musim panas datang, maka para pembuat
garam akan sangat jauh dari keuntungan seperti yang di terima dari musim hujan.
Matahari yang membakar tanah akan terik sinarnya itu, juga membuat para pembuat
garam harus berlomba – lomba mengambil air garam yang sudah di persiapkan jauh
– jauh hari dengan cara tanah tambak tersebut di ceker dengan alatnya sendiri
supaya dapat menimbulkan kerak tanah tambak itu akan mengeluarkan air asin.
Sisi kiri dan kanan akan di gunakan untuk menumpukkan kerak tanah cekeran
tersebut, namun didiamkan selama semalam baru bisa di ambil, dan yang di
tengahnya di buatkan lubang sebagai penahan air.
                                                                                                            
Tetapi, sangat berbeda dengan Pak Marbawi. Dia lebih duluan
mempersiapkan lubang begitu besar di dalam rumah kumuh beratapkan rumbia ini,
kini sudah dijadikan sebagai rumah dapur untuk memasak garam alami. Inisiatif
yang di gunakannya cemerlang, jadi ketika panas dia tidak perlu berlomba –
lomba mendapatkan air, begitu juga ketika hujan turun. Air yang akan di masak
dan di jadikan garam itu bisa bertahan hingga tahun depan, perawatan yang di
gunakan Pak Marbawi tetap dari turun temurun keluarganya.
Mengucapkan rasa syukur sudah menjadi kewajiban setiap umat
manusia di bumi ini, dengan bentuk apapun yang di berikan. Pak Marbawi dalam
sehari mendapatkan hasil dari penjualan garam sebesar 100.000 ribu rupiah,
meskipun dari uang itu dia akan membagikannya kepada keluarga serta untuk
memenuhi kebutuhan memasak garam, makanya kayu pun ikut di belikannya.
Terkadang, kalau rezekinya bagus dari pemesanan dan warung – warung kecil, dia
bisa mendapatkan hasil yang besar mencapai empat hingga lima juta. Dari hasil
membuat garam inilah sebagian masyarakat desa Matang Tunong ini bertahan hidup
dan dapat menikmati kehidupan seadanya.
Cucuran keringat para petani termasuk petani garam sangat lah
berarti untuk langkah yang akan datang. Hidup tidak selamanya mulus, maka dari
itu semangat ketekunan dalam berusaha begitu penting dalam mewujudkan impian
masa depan yang cerah. Banyak di sekitar kita pengangguran akan sempitnya
lowongan pekerjaan, sangat di sayangkan bagi kehidupan masyarakat kecil, fakir
miskin harus memenuhi segala persoalan perekonomian di tengah – tengah kondisi
barang yang serba mahal.
Terlintas
di benak Mursal untuk bisa membantu dalam membangkitkan semangat orang –
orang kampung dimana itu adalah tempat kelahirannya, dan bagian dari
kehidupan yang penuh usaha untuk masa depan lebih baik. Meski masih
kecil, kesiapannya untuk bekerja layaknya orang dewasa sudah tertanam
dalam dirinya.
Mengembangkan usaha para pembuat garam di desa Matang Tunong
Kecamatan Lapang Lhoksukon Kabupaten Aceh Utara ini haruslah di perhatikan
lebih jauh lagi oleh pemerintah Kabupaten setempat. Supaya sedikitnya kegiatan
dan usaha mereka akan meluas dan di ketahui banyak orang, serta bisa
menciptakan lahan pekerjaan baru pembuat garam alami hasil anak negeri Serambi
Mekkah. Masih banyak perhatian pemerintah terhadap para pembuat garam di
harapkan, seperti rumah dapur mereka yang sebagiannya sudah tidak terpakai lagi
mengingat bangunannya banyak yang roboh. Meskipun dulunya pernah di berikan
bantuan berupa rumah dapur, dan tempat memasak garam yang di buat dari batu
bata. Bagaimana caranya supaya rumah dapur mereka dapat di gunakan kembali dan
di kembangkan untuk rumah dapur memasak garam agar tidak basah ketika hujan,
dan tidak kering ketika kemarau tiba. Uluran tangan pemerintah Kabupaten Aceh
Utara di nanti oleh anak negeri. (Tu2t).


Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe for notification