8 Agustus 2022

Citranews Indonesia

Berani , Kritis Dan Membangun

Seri Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Prapengantar pertama

2 min read
Jakarta CI Online 
Tidak
sedikit diantara kita yang merasa angker
ketika mendengar atau membahas kata filsafat
maupun “ilmu pengetahuan”. Seolah-olah dunia filsafat/ilmu pengetahuan
hanya untuk kaum borjuis  intelektual atau para akademisi semata. Namun,
sadar atau tidak, hampir seluruh aspek hidup kita bersinggungan dengan dunia
filsafat (filsafat praksis) dan berbagai dunia ilmu pengetahuan.
            
Filsafat secara etimology (akar kata) bahasa
Yunani
; Φιλοσοφία philosophia.
Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia
= persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = “kebijaksanaan”).
Sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”.
            
Secara arti harafiah,
tersurat makna dan tujuan filsafat itu sendiri: kebijaksanaan. Kebijaksanaan bukanlah sekadar kecerdasan matematis,
linguistik, verbal atau bentuk berbagai bentuk kecerdasan lain nya.
Kebijaksanaan bukanlah kemampuan logika atau bernalar semata. Kebijaksanaan
adalah kematangan bernalar antara teori dan keseharian, antara profan dan
sakral. Secara sederhana kebijaksanaan mendekati arti self esteem.
           
Filsafat juga sering
disebut Queen of Sciene (Ratu Ilmu Pengetahuan). Hal ini pada dasarnya masih
tepat, namun dalam perkembangan nya dapat kita pelajari bahwa ada beberapa hal
yang membedakan antara filsafat dan ilmu pengetahuan walaupun tidak dapat
ditarik garis perbedaan yang tegas diantara kedua nya.
            
Adapun tokoh-tokoh
filsafat permulaan: Plato, Aristoteles, Democritus, dll. Dari para tokoh
tersebut kita akan mengarungi indahnya dunia filsafat teoritis, yang sadar atau
tidak sadar kita sudah berfilsafat secara praksis. Dalam perkembangan nya akan
banyak tokoh-tokoh filsafat lain yang sangat membantu kita memberikan
pencerahan: Rene Descrates, Imanuel Kant, Hegel, dll.
           
Hingga pada saat ini, di
Indonesia pun banyak tokoh tokoh filsafat: Driyarkara, Romo Mangun, Frans
Magnis Suseno, dll. Akan besar manfaat nya kalau kita melihat pengaruh dari
kita mengarungi dunia filsafat teoritis bersama para tokoh tersebut, yang tentu
nya memiliki ke-khas-an tersendiri dalam berkontekstualisasi di Indonesia.
Salam Pencerahan (Andre Yosua M)
Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

IKUTI CITRANEWS    OK TERIMAKASIH